Proyek Data Center AI Jatiluhur Disorot, Ini Dampak Listrik, Air dan Kebisingannya
kalbardaily.com - Pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menjadi perhatian karena skala infrastrukturnya yang besar serta potensi dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Proyek tersebut merupakan AI Campus 2 atau CGK4 milik BDx Data Centers. Berdasarkan keterangan perusahaan, fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas hingga 640 megawatt (MW) dengan dukungan kapasitas jaringan sebesar 845 MVA dari PLN.
Tahap awal proyek mencakup pembangunan fasilitas dengan kapasitas IT 120 MW yang ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.
Besarnya kapasitas tersebut membuat sejumlah aspek perlu diperhatikan, terutama kebutuhan listrik, kebisingan, dan penggunaan air. Ketiga aspek itu berkaitan langsung dengan operasional data center yang membutuhkan energi, sistem pendinginan, serta berbagai perangkat pendukung yang bekerja secara terus-menerus.
Kebutuhan Listrik Data Center
Data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil karena beroperasi sepanjang waktu. Kebutuhan energi semakin besar ketika fasilitas digunakan untuk menjalankan komputasi AI dengan kepadatan tinggi.
International Energy Agency (IEA) mencatat konsumsi listrik data center secara global mencapai sekitar 415 terawatt-jam (TWh) pada 2024 atau sekitar 1,5 persen dari konsumsi listrik dunia. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 945 TWh pada 2030.
Sementara itu, kapasitas 640 MW yang disebut BDx merupakan kapasitas fasilitas yang dirancang, sedangkan dukungan jaringan 845 MVA merupakan kapasitas jaringan yang disiapkan. Angka tersebut tidak berarti seluruh daya langsung digunakan sejak fasilitas mulai beroperasi.
Karena itu, kebutuhan listrik proyek perlu dilihat bersama dengan kapasitas jaringan lokal dan pertumbuhan kebutuhan listrik pelanggan lain di wilayah sekitar.
Kebisingan dari Infrastruktur Pendukung
Selain konsumsi energi, tingkat kebisingan menjadi aspek lain yang perlu diperhatikan. Data center menggunakan berbagai peralatan seperti sistem pendingin, kipas, pompa, transformator hingga generator cadangan yang dapat menghasilkan suara secara terus-menerus maupun pada kondisi tertentu.
Studi yang dipresentasikan dalam konferensi ACM COMPASS 2025 mengidentifikasi suara dari sistem pendingin dan infrastruktur kelistrikan sebagai salah satu dampak lokal yang perlu diukur di kawasan data center.
Penelitian tersebut melakukan pengukuran awal di Northern Virginia dan menemukan tingkat suara yang lebih tinggi pada sejumlah lokasi permukiman yang berada lebih dekat dengan data center. Namun, peneliti juga menekankan perlunya pengukuran lanjutan.
Kajian mengenai dampak keberadaan data center terhadap nilai rumah juga menunjukkan hasil yang berbeda. Studi peneliti dari University of California, Berkeley dan Harvard yang dipublikasikan pada September 2026 melaporkan adanya penurunan nilai rumah di sekitar data center besar dalam sampel di Amerika Serikat. Sementara penelitian menggunakan data Virginia menemukan dampak terhadap harga rumah yang relatif kecil.
Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa dampak ekonomi maupun kebisingan perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing lokasi.
Untuk proyek Jatiluhur, pengukuran tingkat kebisingan secara langsung menjadi penting, terutama pada batas kawasan dan permukiman yang berada paling dekat dengan fasilitas. Pengukuran juga perlu memperhatikan waktu karena sumber suara dapat berasal dari perangkat pendingin yang bekerja terus-menerus maupun generator yang hanya digunakan dalam kondisi tertentu.
Teknologi Pendingin dan Kebutuhan Air
Penggunaan air menjadi perhatian lain karena perangkat server menghasilkan panas yang harus dibuang secara terus-menerus. Besarnya kebutuhan air bergantung pada beban panas peralatan, efisiensi sistem pendingin dan teknologi yang digunakan.
Departemen Energi Amerika Serikat menjelaskan bahwa sistem pendingin dengan cooling tower berbasis evaporasi dapat membutuhkan air dalam jumlah besar. Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai efisiensi penggunaan air adalah Water Usage Effectiveness (WUE).
BDx menyatakan CGK4 menggunakan teknologi direct-to-chip liquid cooling untuk mendukung rak AI dengan kepadatan hingga 500 kW per rack.
Penerapan teknologi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan air data center tidak dapat disamaratakan. Namun, kebutuhan air proyek tetap perlu dihitung dan disampaikan secara transparan berdasarkan setiap tahap pembangunan.
Pemerintah Jawa Barat sebelumnya menyebut kebutuhan air untuk pengembangan berikutnya dapat mencapai sekitar 384 liter per detik atau sekitar 33.000 meter kubik per hari. Sementara kebutuhan pada tahap awal disebut sekitar 6.000 meter kubik per hari.
Angka tersebut merupakan kebutuhan yang disampaikan dalam penjelasan pemerintah mengenai pengembangan proyek dan tidak menunjukkan bahwa seluruh volume tersebut telah digunakan saat ini.
Sumber air juga menjadi bagian penting dalam penilaian. Pemerintah Jawa Barat menyebut pasokan air untuk proyek masuk melalui sistem PDAM sebelum dibeli oleh perusahaan, bukan diambil langsung oleh BDx dari PJT II.
Dengan demikian, penilaian dampak terhadap masyarakat dan sektor pertanian perlu melihat kapasitas pasokan, alokasi air, volume penggunaan, teknologi pendinginan serta pengelolaan air buangan.
AMDAL Menjadi Bagian Penting Pengawasan
Pembahasan mengenai dampak listrik, air dan kebisingan proyek tidak cukup hanya mengacu pada pengalaman data center di negara lain. Kondisi Jatiluhur membutuhkan kajian yang mempertimbangkan karakteristik lingkungan serta kebutuhan masyarakat setempat.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada 28 September 2026 meminta proses dan informasi mengenai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) proyek dibuka secara transparan kepada masyarakat.
Dalam peninjauan tersebut, dokumen AMDAL disebut masih dalam proses perbaikan dan belum diterbitkan. Pembangunan proyek juga dilaporkan dihentikan sementara karena proses AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum selesai.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan pengawasan terhadap pemenuhan ketentuan tersebut tetap diperlukan mengingat skala proyek yang besar.
Sejumlah data yang penting untuk diperiksa antara lain kebutuhan air pada setiap tahap pembangunan, sumber air, nilai WUE, sistem pengolahan air buangan, kapasitas jaringan listrik, tambahan beban terhadap sistem kelistrikan, serta hasil pengukuran kebisingan.
Data center merupakan bagian dari perkembangan infrastruktur digital dan teknologi AI. Namun, skala fasilitas seperti CGK4 membuat pembahasan mengenai lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar perlu didukung data teknis yang terbuka.
Dengan tersedianya data mengenai konsumsi listrik, kebutuhan air, tingkat kebisingan serta hasil kajian lingkungan, masyarakat dapat menilai kondisi proyek berdasarkan informasi yang terukur, bukan hanya berdasarkan kekhawatiran maupun klaim manfaat teknologi
