Minggu, 25 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Perkuat Hilirisasi Komoditas Non-Sawit, Disbunnak Kalbar Resmi Meluncurkan Cokelat Sanggau Origin

✍️ Lilis Handayani 🕒 17 Sep 2026 👁️ 22x dibaca
Perkuat Hilirisasi Komoditas Non-Sawit, Disbunnak Kalbar Resmi Meluncurkan Cokelat Sanggau Origin
Perkuat Hilirisasi Komoditas Non-Sawit, Disbunnak Kalbar Resmi Meluncurkan Cokelat Sanggau Origin Foto: Istimewa

KalbarDaily.com — Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalimantan Barat resmi meluncurkan produk Cokelat Sanggau Origin di Aula Liberika, Disbunnak Kalbar, Kamis (17/9/2026). Langkah ini menjadi bagian dari strategi mendorong hilirisasi kakao agar komoditas lokal tidak lagi dijual sebagai bahan baku mentah, melainkan diolah menjadi produk akhir bernilai tambah tinggi.

Plt. Kepala Disbunnak Kalbar, Rino Anteno Tenggo, menjelaskan bahwa produk ini membuktikan kemampuan petani lokal dalam menghasilkan olahan kakao yang kompetitif.

“Dalam konteks inilah, kehadiran Cokelat Sanggau Origin memiliki arti penting. Sanggau origin menunjukkan bahwa kakao yang dihasilkan oleh petani kita tidak harus berhenti sebagai bahan baku,” ujar Rino di Kalbar, Kamis (17/9/2026).

Ia menyampaikan apresiasi kepada GIZ, Kalara Borneo, para pekebun, serta mitra pendamping di Kecamatan Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, atas sinergi menghasilkan bahan baku kakao berkualitas. Rino menekankan bahwa peluncuran ini merupakan awal dari rangkaian panjang pengembangan sektor perkebunan kakao.

“Hari ini kita tidak hanya berbicara tentang sebuah produk cokelat. Kita sedang berbicara tentang potensi daerah, para petani, nilai tambah, dan masa depan kakao Kalbar,” kata dia.

Data Luas Areal Kakao Kalbar dan Tantangan Produktivitas

Berdasarkan Peraturan Gubernur Kalbar Nomor 159 Tahun 2021, kakao ditetapkan sebagai salah satu komoditas unggulan daerah selain kelapa sawit, karet, kelapa, kopi, dan lada. Berdasarkan data Statistik Disbunnak Kalbar 2025, total luas areal kakao di Kalbar tercatat mencapai 3.185 hektare, yang terbagi dalam tiga kategori:

“Data tersebut menunjukkan bahwa kita memiliki potensi yang besar, namun juga menghadapi tantangan, terutama dalam meningkatkan produktivitas dan menangani tanaman tua atau rusak,” katanya.

Guna mengatasi kendala fisik kebun, Disbunnak merancang pembenahan menyeluruh mulai dari peremajaan tanaman, peningkatan mutu, penguatan kelembagaan pekebun, hingga perluasan akses pasar UMKM.

Pendekatan Ramah Lingkungan Melalui Sistem Agroforestri

Dukungan senada disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kalbar, Heronimus Hero. Ia menekankan bahwa kakao memiliki peran strategis bagi perekonomian warga sekaligus penyumbang devisa daerah.

“Semoga Cokelat Sanggau Origin semakin dikenal, semakin dipercaya, mampu menembus pasar premium, dan menjadi salah satu kebanggaan Kalimantan Barat,” katanya.

Heronimus menambahkan bahwa keunggulan lain dari komoditas ini terletak pada pola tanamnya yang ramah lingkungan melalui metode berkelanjutan.

“Melalui agroforestri, pengembangan kakao dapat berjalan berdampingan dengan tanaman lainnya, sehingga pengelolaan lahan tidak semata-mata berorientasi pada produksi, tetapi juga memperhatikan keberagaman vegetasi, keberlanjutan lingkungan dan daya dukung ekosistem,” katanya.

Rangkaian acara peluncuran produk olahan ini turut diisi dengan kegiatan talkshow interaktif bertajuk “Memperkuat Masa Depan Kakao Melalui Kolaborasi di Kalbar”.

LH
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update