Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Teknologi
Teknologi

BRIN Kembangkan PUMMA, Teknologi Murah untuk Deteksi Dini Tsunami

✍️ Lilis Handayani 🕒 28 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
PUMMA Brin alat deteksi tsunami
PUMMA Brin alat deteksi tsunami Foto: istimewa

kalbardaily.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) guna memperkuat sistem peringatan dini tsunami di Indonesia. Teknologi ini dirancang untuk mendeteksi anomali permukaan laut secara cepat, termasuk yang berpotensi berkaitan dengan tsunami akibat aktivitas vulkanik.

Inovasi tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat mitigasi bencana di Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Ancaman tsunami di wilayah ini tidak hanya berkaitan dengan gempa tektonik, tetapi juga dapat dipicu oleh aktivitas gunung api.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Semedi Husrin, menjelaskan bahwa PUMMA dikembangkan untuk membaca perubahan muka air laut yang menyimpang dari kondisi normal. Informasi itu dapat menjadi data pendukung dalam proses deteksi dan peringatan dini tsunami.

Berbeda dengan tsunami buoy yang ditempatkan di laut dalam, PUMMA atau sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (IDSL) dapat dipasang di kawasan pesisir. Pendekatan ini memungkinkan pemantauan dilakukan lebih dekat dengan garis pantai.

PUMMA Tawarkan Biaya Lebih Terjangkau

Salah satu keunggulan PUMMA adalah biaya pengadaan yang relatif rendah dibandingkan sejumlah perangkat pemantauan tsunami lainnya. Faktor biaya menjadi penting untuk memperluas pemantauan di wilayah pesisir Indonesia yang memiliki risiko bencana.

Penelitian Semedi Husrin bersama kolega dalam Jurnal Kelautan Nasional pada 2021, melalui kajian kinerja IDSL/PUMMA untuk peringatan dini tsunami di Pangandaran, mencatat bahwa lebih dari 91 persen data berhasil direkam dengan interval kurang dari 10 detik. Sebanyak 99 persen data juga dapat ditransmisikan dalam waktu kurang dari 25 detik.

Penelitian tersebut menyebut pengadaan awal sistem IDSL membutuhkan biaya kurang dari 2.000 dolar AS, termasuk rangka perangkat. Adapun biaya internet diperkirakan sekitar 5 dolar AS per bulan berdasarkan kajian tersebut.

Perangkat juga dapat menggunakan panel surya dan baterai sebagai sumber energi. Dengan demikian, operasionalnya tidak selalu bergantung pada pasokan listrik konvensional di lokasi pemasangan.

Meski menawarkan biaya lebih terjangkau, efektivitas sistem tetap bergantung pada kualitas sensor, jaringan komunikasi, pemeliharaan, serta integrasi dengan sistem peringatan dini yang telah tersedia.

Cara Kerja PUMMA dalam Membaca Anomali Laut

PUMMA menggunakan sensor radar untuk mengukur perubahan muka air laut secara berkala. Data hasil pengukuran kemudian dikirimkan ke server melalui jaringan komunikasi. Kamera juga dapat digunakan untuk membantu memeriksa kondisi di sekitar perangkat.

Dalam penelitian yang diterbitkan melalui IOP Conference Series: Earth and Environmental Science pada 2022, tim peneliti menjelaskan penggunaan metode Kalman Filter untuk memperkirakan pola muka air laut normal.

Sistem kemudian membandingkan hasil pengukuran dengan pola tersebut. Ketika perubahan melewati ambang batas tertentu, sistem dapat mengidentifikasinya sebagai anomali dan memicu pengiriman peringatan melalui SMS atau surat elektronik.

Semedi menjelaskan bahwa fokus PUMMA bukan sekadar mengukur pasang surut, melainkan mengenali perubahan yang tidak biasa pada pola tersebut.

“PUMMA ini tidak mengukur pasang surutnya, tetapi dia mengukur anomali yang terjadi di pasang surut itu sendiri,” ujar Semedi.

Menurutnya, pengambilan data dapat dilakukan dengan interval hingga satu detik. Sementara itu, transmisi data dari perangkat di lapangan menuju server dapat berlangsung sekitar 10–15 detik, berdasarkan penjelasan yang disampaikan dalam wawancara.

Kecepatan tersebut penting karena tsunami yang bersumber dekat pantai dapat tiba dalam waktu singkat. Informasi mengenai perubahan muka air laut perlu diproses secepat mungkin agar dapat mendukung pengambilan keputusan.

Pengalaman Tsunami Selat Sunda Jadi Pelajaran

Pengembangan PUMMA berkaitan dengan kebutuhan memperkuat sistem peringatan dini tsunami yang sebelumnya banyak mengandalkan informasi gempa bumi dan pemodelan tsunami.

Tsunami Selat Sunda pada 2018 menjadi salah satu pengingat bahwa tsunami juga dapat terjadi akibat aktivitas vulkanik. Peristiwa tersebut dipicu oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau, sehingga ancamannya tidak mengikuti pola umum tsunami yang diawali gempa tektonik besar.

Dalam konteks tersebut, pemantauan langsung terhadap perubahan muka air laut dapat memberikan informasi tambahan untuk mendeteksi potensi tsunami, termasuk yang bersumber dari aktivitas nonseismik.

Semedi menyebut PUMMA dikembangkan sebagai pelengkap sistem yang sudah ada, terutama untuk memperkuat deteksi tsunami yang berkaitan dengan aktivitas gunung api.

Jaringan perangkat di kawasan pesisir selatan Jawa dan Sumatera Barat juga dilaporkan mampu mendeteksi gelombang tsunami yang berkaitan dengan letusan gunung bawah laut Hunga Tonga pada Januari 2022.

Pengembangan perangkat di sekitar kawasan Anak Krakatau turut dilakukan untuk memperkuat pemantauan di wilayah yang memiliki riwayat ancaman tsunami akibat aktivitas vulkanik.

Berpotensi Terhubung dengan Sirene Peringatan

Selain mendeteksi anomali, PUMMA berpotensi diintegrasikan dengan sistem peringatan dini di tingkat lokal. Salah satu skema yang dikaji adalah menghubungkan hasil deteksi perangkat dengan sirene agar peringatan dapat dipicu secara otomatis ketika kondisi tertentu terpenuhi.

“Sirenenya bisa di-trigger secara otomatis dari PUMMA ini yang mendeteksi anomali muka airnya,” kata Semedi.

Integrasi tersebut dapat membantu mempercepat penyampaian informasi kepada masyarakat pesisir. Namun, penerapannya membutuhkan pengujian, ambang batas deteksi yang tepat, serta prosedur peringatan yang jelas untuk mengurangi risiko keterlambatan maupun alarm keliru.

PUMMA bukan pengganti seluruh sistem peringatan dini tsunami. Teknologi ini berperan sebagai lapisan pemantauan tambahan yang menyediakan data muka air laut secara cepat untuk mendukung sistem yang telah berjalan.

Pengembangan dan penerapan lebih lanjut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan wilayah pesisir Indonesia, terutama di kawasan yang menghadapi risiko tsunami akibat gempa bumi maupun aktivitas vulkanik.

LH
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update