Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Aktivitas Bongkar Muat Pelabuhan Kijing Melonjak, Pelindo Tambah Peralatan Operasional

✍️ Lilis Handayani 🕒 27 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Aktivitas bongkar muat komoditas berlangsung di Terminal Kijing, Mempawah memperkuat konektivitas maritim serta mendukung distribusi komoditas dan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat.
Aktivitas bongkar muat komoditas berlangsung di Terminal Kijing, Mempawah memperkuat konektivitas maritim serta mendukung distribusi komoditas dan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat. Foto: istimewa

kalbardaily.com - Aktivitas kepelabuhanan di Terminal Kijing, Kalimantan Barat, terus meningkat sepanjang 2026. PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 2 Pontianak menyiapkan penambahan peralatan bongkar muat untuk mengantisipasi pertumbuhan arus barang dan memperkuat kapasitas pelayanan.

General Manager PT Pelindo Regional 2 Pontianak, Dewa Cipta Hadi, mengatakan kunjungan kapal di Pelabuhan Kijing mencapai 764 kunjungan pada triwulan III 2026. Angka tersebut meningkat 43,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat sebanyak 534 kunjungan.

Peningkatan juga terlihat pada tonase kotor kapal atau gross tonnage (GT), dari 2.011.848 GT pada triwulan III 2025 menjadi 3.249.210 GT pada triwulan III 2026, atau tumbuh 61,5 persen.

Kinerja bongkar muat sejumlah komoditas turut menunjukkan tren positif. Aktivitas bongkar general cargo meningkat 316,2 persen, curah cair tumbuh 72,1 persen, bag cargo naik 13,9 persen, sedangkan curah kering meningkat 100,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Insya Allah, saya cukup optimistis untuk bisa meningkat cukup tajam kalau betul tahun depan,” kata Dewa saat menjelaskan prospek aktivitas Pelabuhan Kijing.

Pelindo Tambah Peralatan Peti Kemas dan Curah Kering

Untuk mendukung peningkatan arus barang, Pelindo merencanakan penambahan peralatan operasional, terutama untuk pelayanan peti kemas. Peralatan yang disiapkan meliputi quay container crane (QCC) dan rubber tyred gantry (RTG).

Dewa menjelaskan, peralatan RTG saat ini telah tersedia di lapangan. Meski demikian, penambahan unit baru tetap direncanakan agar kapasitas pelayanan dapat mengikuti perkembangan kebutuhan bongkar muat.

Sementara itu, volume peti kemas atau throughput di Terminal Kijing selama Juni hingga September 2026 tercatat mencapai 2.221 TEU (twenty-foot equivalent unit), satuan yang digunakan untuk mengukur kapasitas peti kemas.

Selain peti kemas, Pelindo juga menyiapkan peralatan untuk menangani komoditas curah kering, seperti bauksit dan batu bara. Fasilitas tersebut mencakup hopper dan perlengkapan pendukung bongkar muat lainnya.

“Dari sisi peralatan, khususnya untuk curah kering, kami sudah menyiapkan hopper dan perlengkapan pendukung. Insya Allah, kami siap menerima produksi yang masuk, khususnya untuk curah kering,” ujarnya.

Namun, penanganan komoditas curah kering, terutama bauksit, masih membutuhkan tambahan hopper agar kapasitas peralatan sesuai dengan kebutuhan operasional.

Kerja Sama Industri Dukung Pengembangan Kijing

Pengembangan Pelabuhan Kijing juga didukung kerja sama dengan sejumlah perusahaan di sektor pengolahan kelapa sawit dan produk turunannya. Mitra yang telah terlibat antara lain PT Pacific Bio Industry, PT Khatulistiwa Cakrawala yang tergabung dalam Apical Group, PT Energi Unggul Persada, dan PT Riya Pacific Nabati.

Menurut Dewa, terdapat sekitar empat hingga lima mitra yang telah terlibat dalam pengembangan kawasan, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan dan tangki penyimpanan.

Pelindo juga membuka peluang kolaborasi dengan perusahaan besar lainnya. Salah satu penjajakan kerja sama yang disebutkan adalah sinergi dengan BUMN PT Bukit Asam untuk mendukung pengembangan aktivitas di kawasan pelabuhan.

Keterlibatan perusahaan industri diharapkan memperkuat hubungan antara kegiatan produksi, pengolahan, dan layanan kepelabuhanan. Integrasi tersebut dapat mendukung kelancaran rantai logistik serta pengembangan industri dan hilirisasi di Kalimantan Barat.

Relokasi Jalan Nasional Ditargetkan Rampung 2027–2028

Di luar peningkatan fasilitas pelabuhan, Pelindo Regional 2 Pontianak juga mendorong penyelesaian relokasi jalan nasional yang sebelumnya melintasi kawasan Pelabuhan Kijing.

Relokasi tersebut diharapkan dapat memperlancar pergerakan kendaraan logistik sekaligus menunjang kelancaran operasional pelabuhan.

Dewa menyebut proses relokasi masih menunggu penyelesaian tahapan serah terima barang milik negara dari Kementerian Keuangan.

“Harapannya, pada akhir 2027 atau awal 2028, relokasi jalan nasional ini sudah bisa diselesaikan secara penuh,” ungkapnya.

Peningkatan peralatan bongkar muat, penguatan kerja sama industri, dan penyelesaian relokasi jalan diharapkan dapat mendukung peran Pelabuhan Kijing sebagai salah satu simpul logistik dan industri di Kalimantan Barat.

LH
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update