Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Strategi Komprehensif Pemulihan Ekosistem Hutan dan Lahan Gambut Pascakebakaran

✍️ Hendri Kurnia 🕒 26 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Lahan yang habis dalam kebakaran.
Lahan yang habis dalam kebakaran. Foto: detik.com

Kebakaran hutan dan lahan yang berulang kali melanda kawasan gambut meninggalkan kerusakan ekologis yang masif, mulai dari hilangnya tutupan vegetasi, terlepasnya emisi karbon dalam jumlah besar ke atmosfer, hingga musnahnya habitat satwa liar. Guna mengatasi persoalan ini, pemerintah bersama berbagai elemen masyarakat dan pegiat lingkungan terus menggalakkan langkah pemulihan terpadu yang berfokus pada pengembalian fungsi hidrologis serta produktivitas ekosistem secara berkelanjutan.

Kerusakan pada ekosistem gambut tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan lokal, melainkan turut memicu krisis iklim global akibat pelepasan gas rumah kaca dari lapisan gambut yang mengering. Ketika lahan gambut kehilangan kandungan airnya akibat pembuatan kanal di masa lalu, material organik di dalamnya menjadi sangat rapuh dan rentan tersulut api. Oleh karena itu, penanganan utama pascakebakaran harus diarahkan langsung pada akar permasalahannya, yaitu mengembalikan tingkat kelembapan tanah agar siklus bencana tidak berulang setiap tahunnya.

Pendekatan utama yang lazim diterapkan dalam memulihkan kawasan ini dikenal dengan kerangka kerja tiga pilar atau metode 3R, yang meliputi pembasahan kembali (rewetting), penanaman kembali (revegetasi), serta pemulihan ekonomi masyarakat (revitalisasi). Melalui penerapan strategi tersebut, proses pemulihan diharapkan mampu berjalan secara menyeluruh tanpa mengabaikan aspek kesejahteraan warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan.

Tahap awal yang memegang peranan paling krusial dalam rangkaian restorasi adalah proses pembasahan kembali atau rewetting. Langkah ini dilakukan guna menaikkan kembali permukaan air tanah gambut agar material di bawahnya kembali basah, padat, dan tidak mudah terbakar. Pembangunan infrastruktur pengatur air seperti sekat kanal untuk membendung aliran air keluar, pembuatan sumur bor, serta penimbunan saluran air buatan menjadi instrumen penting untuk menjaga kestabilan tinggi muka air tanah pada batas ideal.

Setelah kondisi tata air berhasil distabilkan dan tingkat kelembapan tanah terjaga, tahapan berikutnya dilanjutkan dengan proses revegetasi atau penanaman kembali. Pada tahap ini, pemilihan jenis tanaman disesuaikan secara spesifik dengan karakteristik lahan basah, seperti pohon jelutung, ramin, belangeran, atau sagu yang terbukti tahan terhadap kondisi ekosistem gambut. Keberhasilan revegetasi tidak hanya diukur dari seberapa banyak bibit yang ditanam, melainkan bagaimana memastikan spesies tersebut dapat tumbuh subur untuk mengembalikan fungsi ekologis hutan sebagai penyedia pakan serta koridor bagi satwa liar.

Selain pemulihan fisik lingkungan dan vegetasi, aspek sosial ekonomi melalui revitalisasi masyarakat lokal menjadi penentu keberhasilan jangka panjang. Melalui program pendampingan, warga diarahkan untuk mengembangkan mata pencaharian alternatif yang ramah lingkungan, mulai dari praktik pertanian tanpa bakar, budidaya perikanan air tawar, hingga pemanfaatan hasil hutan non-kayu. Dengan demikian, masyarakat dapat meningkatkan taraf hidup mereka secara mandiri sekaligus berperan aktif sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan dan lahan gambut dari ancaman kerusakan di masa mendatang.

HK
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update