Karhutla Melanda 14 Taman Nasional di Indonesia, Habitat Satwa Terancam
kalbardaily.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan melanda sedikitnya 14 taman nasional di Indonesia sepanjang 2026. Kebakaran di sejumlah kawasan konservasi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kerusakan ekosistem, hilangnya habitat satwa liar, serta efektivitas upaya perlindungan hutan.
Laporan BBC News Indonesia yang terbit pada 27 Oktober 2026 menyebutkan, kebakaran terjadi di berbagai taman nasional, mulai dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur hingga Taman Nasional Way Kambas di Lampung.
Sejumlah kawasan lain yang turut dilaporkan terdampak meliputi Taman Nasional Gunung Ciremai, Tambora, Manusela, Rawa Aopa Watumohai, Tanjung Puting, dan Wasur.
Luasan kebakaran berbeda-beda di setiap kawasan. Kondisi medan, karakteristik vegetasi, serta keberadaan lahan gambut menjadi sejumlah tantangan dalam penanganan api di lokasi tertentu.
Kebakaran Berulang di Way Kambas
Taman Nasional Way Kambas di Lampung Timur menjadi salah satu kawasan konservasi yang mendapat perhatian setelah kebakaran berulang dilaporkan terjadi sejak Agustus hingga Oktober 2026.
Humas Balai Taman Nasional Way Kambas, Riri Fitriandi, menjelaskan bahwa kebakaran pada Agustus terjadi di bagian selatan kawasan. Titik kebakaran berikutnya muncul di wilayah utara dan area perbatasan taman nasional.
Penanganan api di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri. Bara dapat kembali muncul meskipun permukaan lahan telah disiram, sehingga petugas perlu melakukan pembasahan dan pemantauan secara berkelanjutan.
Petugas gabungan dari unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat dikerahkan untuk menangani kebakaran. Sekitar 350 personel disebut terlibat dalam penanganan di salah satu lokasi terdampak.
Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 27 Oktober 2026, sebagian titik kebakaran telah dipadamkan. Namun, pemantauan masih dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Luas Kebakaran di Sejumlah Taman Nasional
Data dari beberapa kawasan menunjukkan bahwa kebakaran telah berdampak pada ribuan hektare lahan, meskipun periode pencatatan setiap wilayah berbeda.
Di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, data Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur yang dikutip BBC mencatat sekitar 3.531 hektare lahan terbakar selama periode 1 Januari hingga akhir September 2026.
Sementara itu, luas kebakaran di Taman Nasional Tambora, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan mencapai sekitar 1.956 hektare berdasarkan data balai per Oktober 2026.
Di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, data BNPB per 20 Oktober 2026 mencatat sekitar 1.234 hektare lahan terdampak. Adapun Taman Nasional Wasur di Papua Selatan dilaporkan mengalami kebakaran seluas sekitar 8.708 hektare selama Januari hingga Agustus 2026.
Angka-angka tersebut merujuk pada lokasi dan periode pelaporan yang berbeda. Karena itu, data tersebut tidak dapat langsung dijumlahkan untuk menggambarkan total luas kebakaran di seluruh taman nasional tanpa memeriksa keseragaman metode dan cakupan pencatatannya.
Habitat Satwa Liar Menghadapi Ancaman
Dampak karhutla tidak hanya berupa kerusakan vegetasi. Kebakaran juga berpotensi mengurangi ketersediaan pakan, tempat berlindung, dan area berkembang biak bagi satwa liar.
Hilangnya tutupan hutan dapat mendorong satwa berpindah ke wilayah lain, termasuk perkebunan dan permukiman. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan interaksi negatif antara satwa dan manusia.
Di Way Kambas, kebakaran yang mendekati kawasan Pusat Konservasi Gajah menimbulkan kekhawatiran terhadap habitat dan wilayah jelajah gajah sumatra. Namun, pengelola kawasan dilaporkan belum menerima informasi mengenai gajah yang terdampak langsung dalam kebakaran terbaru tersebut.
Pemulihan ekosistem juga tidak selalu selesai setelah api berhasil dipadamkan. Vegetasi, sumber pakan, dan fungsi habitat membutuhkan waktu untuk pulih, bergantung pada tingkat kerusakan serta karakteristik lingkungan masing-masing kawasan.
Walhi Soroti Pengawasan Kawasan Konservasi
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai rentetan kebakaran di taman nasional perlu menjadi bahan evaluasi terhadap upaya perlindungan kawasan konservasi.
Manager Kampanye Hutan dan Kebun Walhi Nasional, Uli Arta Siagian, menyoroti keterbatasan jumlah pengawas dibandingkan dengan luas kawasan yang harus dijaga. Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi pemantauan dan peningkatan keterlibatan masyarakat di sekitar hutan dalam pencegahan kebakaran.
Walhi turut mempertanyakan efektivitas Satuan Tugas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional. Pandangan tersebut merupakan evaluasi dari pihak Walhi, sementara penjelasan mengenai pelaksanaan program, pengawasan, dan pemanfaatan sumber daya perlu dikonfirmasi kepada instansi terkait.
Pencegahan karhutla membutuhkan deteksi dini, patroli rutin, kesiapan personel, dan koordinasi antarlembaga. Strategi penanganan juga perlu disesuaikan dengan kondisi setiap kawasan, khususnya lahan gambut dan wilayah yang sulit dijangkau.
Pencegahan Perlu Berjalan Bersamaan dengan Pemadaman
Rentetan kebakaran di taman nasional sepanjang 2026 menegaskan pentingnya upaya pencegahan yang berjalan beriringan dengan pemadaman dan pemulihan ekosistem.
Pemantauan titik panas, patroli kawasan rawan, keterlibatan masyarakat, serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran dapat menjadi bagian dari langkah pengurangan risiko. Evaluasi berkala juga diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab kebakaran dan menentukan penanganan yang sesuai.
Penyebab kebakaran tidak dapat disamaratakan karena setiap kejadian perlu diperiksa berdasarkan bukti di lapangan. Faktor cuaca, kondisi vegetasi, lahan gambut, dan kemungkinan aktivitas manusia perlu ditelusuri oleh pihak berwenang.
Perlindungan taman nasional membutuhkan kerja sama pemerintah, pengelola kawasan, aparat penegak hukum, peneliti, dan masyarakat agar ekosistem serta habitat satwa liar tetap terjaga.
