Dorong Ekonomi Lahan Gambut, DLHK Kalbar Gandeng 9 KTH Budidayakan Kopi Liberika
Pemberdayaan Petani Gambut Lewat Komoditas Kopi Liberika
Upaya penguatan ekonomi masyarakat kawasan hutan di Kalimantan Barat terus dipacu melalui pemanfaatan lahan gambut berkelanjutan. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kalimantan Barat secara resmi menjalin kerja sama dengan sembilan Kelompok Tani Hutan (KTH) untuk menggalakkan program budidaya tanaman kopi liberika serta jenis tanaman serbaguna atau Multi-Purpose Tree Species (MPTS).
Program terobosan ini dikemas dalam bingkai kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) berbasis pemberdayaan masyarakat. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan resmi antara pihak DLHK Kalbar dan jajaran pengurus dari kesembilan KTH penerima manfaat. Langkah ini diharapkan mampu menghadirkan nilai tambah ekonomi yang konkret bagi para petani lokal tanpa harus merusak ekosistem gambut yang rentan.
Tujuan Strategis dan Cakupan Program
Langkah intervensi yang dilakukan pemerintah daerah ini berfokus pada dua sasaran utama: menjaga fungsi kelestarian lingkungan dan menggerakkan roda perekonomian akar rumput. Lahan gambut yang selama ini kerap dianggap mengancam dari sisi kerawanan kebakaran lahan kini didorong agar lebih produktif secara aman.
Budidaya kopi liberika dipilih secara khusus lantaran varietas kopi ini memiliki daya tahan serta adaptabilitas yang sangat tinggi terhadap kelembapan dan tingkat keasaman khas tanah gambut. Di samping penanaman bibit kopi, integrasi dengan tanaman MPTS (seperti buah-buahan dan pohon produktif kayu non-penebangan) ditujukan agar petani dapat memanen hasil secara rutin jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalimantan Barat, Ganda Yulianto Butarbutar, menegaskan orientasi penting dari program kerja sama rehabilitasi lahan tersebut.
"Ganda mengatakan, kegiatan pengembangan tanaman kopi liberika dan MPTS (Multi-Purpose Tree Species) atau tanaman produktif sejatinya adalah bagian dari dukungan..."
Melalui dukungan terpadu dari DLHK Kalbar, kesembilan KTH tersebut diproyeksikan tidak hanya menerima bantuan bibit dan sarana prasarana penunjang, melainkan juga pendampingan teknis tata kelola lahan basah yang ramah lingkungan.
Detail Sebaran Kelompok Tani Hutan (KTH) Penerima Manfaat
Program pengembangan budidaya kopi berbasis gambut ini mencakup beberapa wilayah kabupaten strategis di Kalimantan Barat. Sembilan Kelompok Tani Hutan yang terlibat tersebar di kantong-kantong kawasan hutan yang berdekatan dengan area pemukiman warga.
Para petani yang tergabung dalam KTH tersebut akan mengelola lahan-lahan gambut yang terdegradasi atau belum dimanfaatkan secara optimal. Dalam skema ini, keterlibatan aktif masyarakat sekitar hutan menjadi kunci keberhasilan. Petani diposisikan sebagai pelaku utama pemulihan lingkungan sekaligus penerima manfaat langsung dari komoditas yang dipanen.
Melalui pola kemitraan ini, kekhawatiran masyarakat terhadap alih fungsi lahan yang tidak ramah lingkungan dapat ditekan. Lahan gambut dijaga kelembapannya agar tetap basah, sementara tanaman kopi dan MPTS dapat tumbuh dengan baik di atas permukaannya.
Keunggulan Kopi Liberika di Ekosistem Gambut
Pemilihan komoditas kopi liberika bukanlah hal yang kebetulan. Kalimantan Barat sejatinya telah memiliki jejak rekam positif dalam mempopulerkan produk kopi jenis ini ke tingkat nasional bahkan mancanegara. Kopi liberika memiliki ciri khas biji yang lebih besar dibandingkan arabika maupun robusta, serta profil rasa unik dengan sentuhan aroma buah yang khas.
Keunggulan agronomis kopi liberika meliputi:
-
Toleransi Lahan Basah: Mampu tumbuh optimal di dataran rendah dan kawasan berrawa/gambut.
-
Ketahanan Pestisida Herbal/Alami: Cenderung lebih tahan terhadap penyakit gugur daun dan serangan hama tanah.
-
Ketahanan Iklim: Memiliki perakaran yang dalam sehingga mampu bertahan pada kondisi keasaman tanah yang ekstrem.
Nilai ekonomis biji kopi liberika di pasaran terbilang sangat prospektif seiring dengan meningkatnya tren konsumsi kopi spesial (specialty coffee). Dengan sentuhan pengelolaan pascapanen yang tepat, varietas kopi dari lahan gambut Kalbar ini bernilai jual tinggi dan menjadi komoditas ekspor potensial.
Dampak Jangka Panjang bagi Lingkungan dan Ekonomi
Implementasi program kolaboratif antara DLHK Kalbar dan 9 KTH ini diyakini akan memberikan dampak ganda (double dividend). Dari segi ekologi, keberadaan tutupan vegetasi kopi dan MPTS di atas lahan gambut membantu menjaga cadangan karbon (carbon stock) serta menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat musim kemarau.
Dari sudut pandang sosial-ekonomi, diversifikasi sumber pendapatan masyarakat sekitar hutan membuat ketergantungan petani terhadap eksploitasi kayu hutan alam semakin berkurang. Pendapatan rumah tangga petani diharapkan meningkat secara berkelanjutan seiring dimulainya masa panen kopi liberika dan tanaman produktif pendamping lainnya.
Langkah DLHK Kalbar ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong konsep pembangunan hijau (green economy). Pemberdayaan ekonomi masyarakat desa tak lagi harus mengorbankan kelestarian alam, melainkan justru menjadi benteng utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem lahan gambut Kalimantan Barat.
