Sabtu, 24 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Sungai Kapuas Dangkal, Pertamina Ubah Jalur Distribusi BBM di Kalbar

✍️ Lilis Handayani 🕒 23 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia meresmikan operasional sumur gas Jangkrik North East-6 dan fasilitas produksi Lapangan Maha South Hub.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia meresmikan operasional sumur gas Jangkrik North East-6 dan fasilitas produksi Lapangan Maha South Hub. Foto: istimewa

kalbardaily.com – Pemerintah menyiapkan penyesuaian distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Barat setelah pendangkalan Sungai Kapuas menghambat pengiriman melalui jalur sungai. Pertamina mengubah pola penyaluran dengan menjadikan kapal sebagai tempat penampungan sementara sebelum BBM dikirim menggunakan mobil tangki melalui jalur darat.

Langkah tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, saat meninjau perkembangan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan sekaligus memantau kesiapan stok BBM di Kalimantan, Kamis (22/10/2026).

Dalam kunjungan itu, Bahlil melakukan pengecekan bersama Gubernur Kalimantan Timur, Kapolda Kaltim, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, serta jajaran direksi Pertamina. Pemerintah mengevaluasi persoalan teknis di lapangan untuk memastikan kebutuhan BBM masyarakat tetap terpenuhi.

Bahlil menjelaskan, kondisi stok BBM di Kalimantan secara umum tidak jauh berbeda dari tingkat nasional. Namun, distribusi di Kalimantan Barat sempat menghadapi hambatan akibat pendangkalan Sungai Kapuas yang dikaitkan dengan fenomena El Niño.

“Tadi ada problem di Kalimantan Barat, di Sungai Kapuas. Itu karena El Nino kemudian terjadi pendangkalan. Karena terjadi pendangkalan, maka distribusi kita itu sedikit mengalami gangguan,” ujar Bahlil.

Menurutnya, kondisi sungai yang semakin dangkal membuat pola pengiriman BBM perlu disesuaikan. Pertamina kemudian menerapkan skema penampungan sementara di kapal agar penyaluran dapat dilanjutkan melalui transportasi darat.

“Kita sudah ubah caranya (distribusinya). Tadi saya tanya Pertamina, mereka menjadikan kapal sebagai penampungan, habis itu baru didistribusi pakai mobil lewat darat,” katanya.

Stok BBM Nasional Dipantau

Selain mengevaluasi distribusi di Kalimantan Barat, pemerintah turut memantau ketersediaan BBM untuk menjaga kecukupan pasokan di berbagai wilayah.

Bahlil menyebutkan, stok Pertalite secara nasional rata-rata tersedia untuk kebutuhan sekitar 16–18 hari. Sementara itu, stok solar disebut tidak menghadapi persoalan berarti karena Indonesia tidak lagi mengimpor komoditas tersebut, menurut penjelasannya.

Untuk BBM beroktan RON 92, RON 95, dan RON 98, Bahlil menyatakan persediaannya rata-rata berada di atas 20 hari.

“Stok nasional kita rata-rata 16-18 hari untuk Pertalite. Tapi kalau yang untuk solar, karena solar kan kita tidak lagi impor, jadi itu tidak ada isu sama sekali. Nah untuk RON 92, 98, 95 itu rata-rata di atas 20 hari, standar minimum nasional,” ujarnya.

Pemerintah bersama Pertamina terus mengevaluasi kondisi pasokan dan distribusi BBM, terutama di wilayah yang menghadapi kendala jalur transportasi. Penyesuaian metode pengiriman di Kalimantan Barat diharapkan membantu menjaga kelancaran penyaluran bahan bakar meskipun pelayaran di Sungai Kapuas terganggu oleh pendangkalan.

LH
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update