Karhutla Kalbar Ancam Habitat Satwa Liar, Orangutan hingga Trenggiling Terdampak
kalbardaily.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar.
Kerusakan dan hilangnya habitat akibat kebakaran membuat sejumlah satwa harus dievakuasi dan mendapatkan penanganan sebelum dapat dikembalikan ke kawasan yang aman. Satwa seperti orangutan, kukang, dan trenggiling menjadi bagian dari satwa yang terdampak.
Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar, Dian Setyaningsih, mengatakan satwa yang dievakuasi akibat karhutla umumnya mengalami berbagai kondisi, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dehidrasi, malnutrisi hingga luka bakar.
Satwa yang terdampak membutuhkan penanganan medis secara menyeluruh sebelum dapat dilepasliarkan kembali ke kawasan konservasi atau cagar alam yang dinilai aman dari titik api.
"Jadi, memang perlindungan habitat itu sangat penting. Ketika habitatnya rusak atau hilang, hilang pula harapan hidup mereka," kata Dian Setyaningsih dalam dialog Ruang Terbuka di RRI Pontianak, Kamis, 1 Oktober 2026.
Kerusakan habitat juga dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap perilaku satwa. Selain kehilangan tempat berlindung, satwa dapat kehilangan sumber pakan dan lokasi untuk berkembang biak.
Arabela Landscape Program Manager WWF-Indonesia, Albertus Tjiu, mengatakan rehabilitasi pascakarhutla tidak cukup hanya dengan melakukan penghijauan. Kawasan yang terdampak perlu dipetakan dan ditanami kembali dengan jenis pohon yang sesuai sebagai sumber pakan satwa.
"Di balik cerita karhutla itu banyak spesies yang ikut terbakar, mulai dari ular, landak, trenggiling, hingga orangutan. Kita bisa melihat betapa dahsyatnya dampak bencana ini terhadap populasi dan rumah mereka," ucap Albertus Tjiu.
Di sisi lain, upaya pemadaman dan pendinginan lahan terus dilakukan secara terpadu oleh petugas gabungan. Kondisi geografis, khususnya kawasan gambut, menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla di lapangan.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala utama dalam operasi pemadaman.
"Kendala terbesar kita di lapangan saat ini adalah ketiadaan sumber air. Personel ada, alat lengkap, tetapi airnya tidak ada. Ketika sumber air sulit, mau tidak mau kita lakukan operasi udara dengan metode water bombing," ujar Daniel.
Hingga awal Oktober 2026, dari sepuluh kabupaten yang terdampak karhutla di Kalimantan Barat, delapan di antaranya telah memasuki tahap pendinginan.
Sementara itu, Ketapang dan Kayong Utara masih menjalani operasi pemadaman secara intensif. Kondisi tersebut membuat koordinasi antara pemerintah, petugas lapangan, lembaga konservasi dan masyarakat terus diperlukan.
Penanganan karhutla tidak hanya bertujuan memadamkan api, tetapi juga menjaga agar kawasan hutan yang tersisa tetap dapat menjadi habitat bagi satwa liar Kalimantan Barat.
