Inflasi Kalbar Capai 4,35 Persen, Harga Cabai dan Sayuran Jadi Pemicu
kalbardaily.com – Tekanan harga pangan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi Kalimantan Barat pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar mencatat inflasi secara tahunan mencapai 4,35 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 3,28 persen.
Secara bulanan, inflasi Kalbar pada September 2026 tercatat sebesar 0,79 persen. Sementara secara tahun berjalan atau year to date (ytd), inflasi mencapai 3,64 persen. Angka inflasi bulanan tersebut menjadi yang tertinggi dalam 17 bulan terakhir.
Statistisi Ahli Madya BPS Kalbar Sri Suyatmi mengatakan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit dan berbagai jenis sayuran, memberikan andil terhadap inflasi September.
"Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit dan sayuran, memberikan andil terhadap inflasi Kalbar pada September. Penyumbang utama inflasi September 2026 secara bulanan yang sebesar 0,79 persen adalah cabai rawit serta sayur-sayuran seperti kangkung, sawi hijau, bayam dan ketimun," kata Sri Suyatmi dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Jumat.
Selain komoditas hortikultura, kelompok makanan, minuman dan tembakau juga menjadi sumber tekanan inflasi tahunan. Kelompok tersebut mengalami kenaikan harga sebesar 7,02 persen.
Komoditas lain yang turut memberikan sumbangan terhadap inflasi tahunan antara lain minyak goreng, beras dan ikan baung. Cabai rawit, kangkung dan ketimun juga tercatat memberikan andil terhadap kenaikan harga.
Transportasi Ikut Dorong Inflasi
Tekanan harga tidak hanya berasal dari kebutuhan pangan. Kelompok transportasi juga mengalami kenaikan dan memberikan kontribusi terhadap inflasi Kalbar.
“Kelompok transportasi juga ikut menyumbang inflasi, utamanya pelumas atau oli mesin, tarif angkutan udara dan pemeliharaan servis,” katanya.
BPS mencatat kelompok transportasi mengalami kenaikan harga sebesar 5,58 persen secara tahunan. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 4,57 persen, antara lain dipengaruhi harga emas perhiasan dan tarif gunting rambut pria.
Secara tahunan, kenaikan harga terjadi pada 11 kelompok pengeluaran. Selain makanan, minuman dan tembakau yang naik 7,02 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga meningkat 2,20 persen.
Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 2,39 persen, sedangkan kesehatan meningkat 1,16 persen.
Kenaikan juga tercatat pada kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 2,11 persen. Sementara pendidikan naik 2,07 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,41 persen, serta rekreasi, olahraga dan budaya 1,43 persen.
Sejumlah Komoditas Justru Turunkan Harga
Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas, BPS juga mencatat beberapa barang yang memberikan andil terhadap deflasi.
Komoditas tersebut antara lain bawang merah, telur ayam ras, sabun mandi cair dan biskuit.
Perkembangan harga tersebut membuat inflasi Kalbar pada September 2026 berada di angka 4,35 persen secara tahunan, 0,79 persen secara bulanan, dan 3,64 persen secara tahun berjalan.
Data BPS menunjukkan tekanan inflasi di Kalbar pada September tidak hanya berasal dari kelompok pangan, tetapi juga sejumlah kebutuhan transportasi, rumah tangga, jasa, serta kebutuhan personal. Kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam memantau perkembangan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat di daerah
