ILSA 89 Pontianak Hadirkan Swara Nyetrom Bahagia, Padukan Vokal dan Tari untuk Kesehatan Mental
kalbardaily.com – Ikatan Lintas SLTA Alumni (ILSA) 89 Pontianak menghadirkan inovasi seni melalui kelompok vokal Swara Nyetrom Bahagia yang memadukan nyanyian, tari kreasi, dan musik bernuansa multietnis. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi wadah kreativitas, tetapi juga membawa pesan pentingnya menjaga kesehatan mental dan memperkuat hubungan sosial di tengah perkembangan era digital.
Penampilan tersebut menjadi bagian dari pembukaan Festival Rentak Kapuas dan Festival Museum Kalbar 2026 di Rumah Radank, Pontianak, pada Kamis (8/10/2026) malam.
Ketua ILSA 89 Pontianak, Muda Mahendrawan, mengatakan Swara Nyetrom Bahagia telah dipersiapkan melalui serangkaian latihan. Dalam penampilan kali ini, kelompok tersebut menyuguhkan vokal grup yang dipadukan dengan tari kreasi dalam satu pertunjukan.
"Dan ini hasil karya cipta kami sendiri dengan judul lagunya "Bersahabat Bahagia" ini juga merupakan hasil karya cipta yang dikemas dengan apik dan dengan musik yang bernuansa multi etnis serta penampilan Swara Nyetrom Bahagia ini melibatkan penyanyi sekitar 60 orang," kata Muda Mahendrawan di Pontianak, Senin, 12 Oktober 2026.
Menurut Muda, Swara Nyetrom ILSA 89 Pontianak dikembangkan sebagai salah satu upaya merawat kesehatan mental keluarga dan generasi muda. Inisiatif tersebut hadir di tengah meningkatnya pengaruh media sosial, tekanan sosial, serta kecemasan yang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.
"Tentunya hadirnya Swara Nyetrom ILSA 89 Pontianak ini untuk meningkatkan kualitas interaksi nyata langsung perkuat hubungan emosional, karena semakin tergerus dan terdistorsi dampak transformasi super digital yang menggeser pola relasi sosial munculkan tekanan tekanan sosial, ekonomi dan budaya," ucap Muda.
Ia menilai perubahan pola interaksi di era digital perlu diimbangi dengan ruang pertemuan dan kegiatan bersama yang dapat memperkuat hubungan antarmanusia. Melalui seni, anggota komunitas memiliki kesempatan untuk berkolaborasi, membangun kedekatan emosional, dan menciptakan pengalaman bersama.
Muda, yang merupakan mantan Bupati Kubu Raya pertama, juga menyoroti tantangan pembentukan karakter generasi di tengah budaya perbandingan di media sosial. Menurutnya, krisis empati dan persoalan etika menjadi perhatian yang perlu dihadapi bersama.
"Merawat kesehatan mental setiap rumah tangga dan generasi menjadi pondasi penting dan utama, karena hal itu sama halnya dengan merawat proses hidup dan kehidupan yang membangun ketenangan suasana batin, pikiran jernih, emosi stabil, dan keselamatan jiwa, serta fisik tubuh untuk hidup bahagia penuh bermakna," ujar Muda, menjelaskan.
Melalui Swara Nyetrom Bahagia, ILSA 89 Pontianak berharap kegiatan seni dapat menjadi sarana memperkuat kebersamaan sekaligus mendorong masyarakat lebih memperhatikan kesehatan mental, kualitas hubungan keluarga, dan interaksi sosial secara langsung.
