Minggu, 25 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

El Nino Bikin Musim Tanam Padi Kalbar Terlambat, Satu Musim Berpotensi Hilang

✍️ Lilis Handayani 🕒 01 Oct 2026 👁️ 13x dibaca
Ket. Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar Herti Herawati di Pontianak, Kamis (1/10).
Ket. Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar Herti Herawati di Pontianak, Kamis (1/10). Foto: istimewa

kalbardaily.com – Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang berdampak terhadap jadwal musim tanam padi di Kalimantan Barat. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar mencatat musim tanam 2026 mengalami keterlambatan dan berpotensi menyebabkan petani kehilangan satu musim tanam.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar Herti Herawati mengatakan, musim tanam yang seharusnya dimulai pada Juli-Agustus belum dapat dilakukan karena kondisi sumber air yang mengalami kekeringan.

"Seharusnya Juli-Agustus 2026 sudah mulai tanam, tetapi Agustus justru mulai musim kering. Sampai sekarang belum bisa mulai tanam," ujar Herti Herawati di Pontianak, Kamis (1/10).

Menurut Herti, kekeringan membuat sejumlah lahan pertanian belum bisa ditanami karena ketersediaan air tidak mencukupi. Bahkan, penyaluran bantuan kepada petani diminta ditunda karena beberapa sumber air mengering dan sebagian lainnya mengalami kondisi payau.

"Mudah-mudahan di ujung tahun ini bisa mulai tanam," katanya.

Meski musim tanam mengalami kendala, produksi padi Kalbar pada Agustus 2026 tercatat meningkat 3.212 ton gabah kering giling (GKG) dibandingkan Agustus 2025.

Namun, secara kumulatif sepanjang Januari-Agustus 2026, produksi padi masih turun 57.490 ton GKG dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Herti berharap produksi padi dapat kembali meningkat hingga akhir tahun apabila kondisi cuaca dan ketersediaan air mulai mendukung kegiatan tanam.

Selain faktor cuaca, penurunan luas lahan baku sawah juga menjadi tantangan bagi produksi padi di Kalbar. Sejumlah daerah belum mampu memenuhi target luas lahan baku sawah minimal 87 persen dari Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Lahan pertanian tersebut juga menghadapi tekanan akibat pemanfaatan untuk perumahan, perkebunan kelapa sawit, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan sekaligus meningkatkan produktivitas, Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah menerapkan sistem pertanian modern melalui Modern Agriculture Advanced System (MAAS).

Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas padi dari rata-rata sekitar 3,5 ton menjadi hingga delapan ton per hektare.

"Untuk Kalbar dalam program itu ditargetkan 15 ribu hektare," kata Herti.

Pemerintah saat ini mulai melakukan konsolidasi dengan Pemerintah Kabupaten Sanggau, Kubu Raya, dan Landak untuk menjalankan program tersebut. Salah satu dukungan yang disiapkan berupa penggunaan benih dengan padat bibit untuk mendorong peningkatan produksi.

Herti mengatakan hingga kini belum ada laporan kerugian masyarakat secara langsung akibat El Nino. Petani lebih banyak mengusulkan penundaan penyaluran bantuan karena kondisi lahan dan sumber air belum memungkinkan untuk kegiatan tanam.

"Hingga kini belum ada laporan kerugian masyarakat secara langsung akibat El Nino. Masyarakat lebih banyak meminta penundaan penyaluran bantuan karena kondisi lahan dan sumber air yang belum mendukung," ujarnya.

LH
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update