BNPB Catat Dampak Bencana Besar, Kasus ISPA di Wilayah Karhutla Tembus 277 Ribu
kalbardaily.com – Dampak bencana alam di Indonesia tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga memicu persoalan kesehatan masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Data hingga 12 Oktober 2026 mencatat sebanyak 277.075 kasus ISPA secara kumulatif di 63 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi terdampak karhutla.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, menyebutkan bahwa 62.400 kasus atau sekitar 22,5 persen dari total tersebut dialami anak berusia 0–5 tahun.
Partikel halus PM2.5 yang terkandung dalam asap karhutla menjadi salah satu ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel masuk jauh ke saluran pernapasan dan memicu peradangan. Paparan partikel tersebut juga dikaitkan dengan risiko gangguan kesehatan yang lebih luas.
Karhutla masih terjadi di enam provinsi prioritas dan menyebabkan asap menyebar hingga melintasi perbatasan Indonesia–Malaysia. Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah disebut menjadi kluster utama titik panas.
Penanganan kebakaran dilakukan melalui pengerahan satuan tugas darat dan udara, termasuk 37 armada water bombing. Namun, upaya pemadaman masih menghadapi kendala, antara lain keterbatasan peralatan dan minimnya awan hujan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca.
BNPB juga menyoroti perlunya evaluasi terhadap regulasi yang membenarkan pembukaan lahan dengan cara membakar sebagai bagian dari upaya pencegahan karhutla.
Selain kebakaran hutan dan lahan, Indonesia juga menghadapi dampak bencana besar lainnya. Data BNPB per 26 Agustus 2026 mencatat gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur menyebabkan 103 orang meninggal dunia, 1.666 orang luka-luka, dan 185.131 orang mengungsi. Bencana tersebut juga mengakibatkan 77.912 rumah mengalami kerusakan.
Penanganan dampak gempa meliputi penyaluran logistik kesehatan dan obat-obatan, pembangunan rumah sakit lapangan, pengerahan tenaga kesehatan, serta dukungan psikososial bagi para penyintas. Proses penanganan dilaporkan masih berlangsung.
Berbagai dampak tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan bencana tidak berhenti pada pemadaman api atau penanganan kondisi darurat. Perlindungan kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, juga perlu menjadi bagian penting dari respons bencana.
